Resensi Novel Sangga Langit

Sangga langit? Maksudnya menyangga langit dengan kedua tangan mungkin ya, kaya gambar di atas? Tapi tidak, tentu saja tidak. Sangga langit adalah sebuah novel yang pernah saya resensi dan diikutkan lomba. Alhamdulillah menang, juara lima. Lumayan :D Lalu cerita apa sih sebenarnya sangga langit itu? :)



Karena ingin bertualang dan membuat kejutan, Adam dan Masuasa mencari akal agar bisa pergi tanpa Tuing dengan berbekal petunjuk yang ada. Namun, mereka tersesat ke sebuah balai adat yang sedang berpantang menerima tamu. Kedua anak itu harus bertarung dan mengerahkan ilmu beladirinya untuk melawan warga balai yang bersenjatakan mandau, sumpit dan tombak. Sayangnya, keduanya tertangkap dan harus dihukum karena dianggap sebagai pembawa bencana. Bagaimana nasib Adam dan Masuasa selanjutnya? Selamatkah mereka?



1. Identitas Buku



Judul Buku : Sangga Langit (Petualangan anak-anak Hunjur Meratus di Kalimantan Selantan)
Penulis Buku : Djarani E.M.
Penerbit Buku : Adicita Karya Nusa
Pencetak Buku : Mitra Gama Widya
Penyunting Buku : Iyan Wibowo, Muti'ah Amini
Perancang Kulit : Wid NS
Illustrator : Mulyantara
Pengolah Kulit & Ilustrasi : Wahyu Wibowo
Jumlah Halaman : viii + 112 hlm. Full Colour 12 hlm.
Ukuran Buku : 14,2 x 20 cm HVS 70 gr
Berat Buku : 140 gram
Tanggal Terbit : 30 Juli 2001
Cetakan Ke : 5
Nomor Kode Penerbit : 186.507AKN97
Nomor ISBN : 979-507-213-7
Harga : Rp. 31.700,00

2. Bagian Isi Buku

2.1. Tujuan Penulisan Buku

     
Untuk memberi gambaran kepada para pembaca tentang lingkungan hidup, tentang budaya, dan tentang nilai-nilai kehidupan. Dan juga memberi gambaran kepada pembaca mengenai suatu karya yang diresensikan, apakah karya tersebut dapat diterima pembaca atau tidak.

2.2. Isi Umum (ditinjau dari daftar isi)

2.2.1. Masuasa
2.2.2. Loksado
2.2.3. Balai Juntai Batajun
2.2.4. Sangga Langit
2.2.5. Sampai Bertemu Lagi

2.3. Penilaian Kualitas Isi Buku

2.3.1. Keunggulan Buku

   Keunggulan dalam novel ini adalah, meskipun berupa fiksi, novel ini dapat memberikan pembaca kesadaran akan lingkungan hidup. Tentang pentingnya hutan sebagai penyedia bahan-bahan pokok bagi manusia, tentang banyaknya aneka hewan dan tumbuhan yang sangat indah hidup di sana, dan tidak ada gunanya menghancurkan keindahan itu demi ketamakan dan juga kepuasan semata. Dari novel ini, pembaca dapat belajar bahwa “Kesederhanaan mengundang pesona, dan kesederhanaan merupakan mahkota keindahan.”
   Dalam hal ini, penulis juga mengajak pembaca untuk tidak menyerah dan senantiasa berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik, untuk tidak berburuk sangka kepada orang lain yang belum tentu bersalah, untuk menghargai orang lain, dan juga untuk tidak menilai seseorang sebelum mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Pikirkanlah dengan baik sebelum bertindak.
   Karena cerita ini berasal dari Kalimantan Selatan, sangatlah wajar kalau terdapat istilah dari Kalimantan. Untuk itu, buku ini dengan kreatifnya menambahkan kamus di bagian belakang buku.
  Di dalam cerita, terdapat beberapa kebudayaan-kebudayaan orang Kalimantan yang dapat pembaca pelajari.
  Cerita yang membawa pembaca menuju ke dalam dunia petualangan ini, sangatlah menambah rasa keingintahuan pembaca terhadap kejadian selanjutnya. Sementara itu, akhir ceritanya, diserahkan kepada imajinasi pembaca. Sangatlah cerdik, karena pembaca harus menebak-nebak kejadian berikutnya. Cerita ini, sangatlah cocok untuk dibaca oleh kalangan remaja dan dewasa karena terdapat banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil dari cerita Sangga Langit ini.

2.3.2. Kelemahan Buku

    Kelemahan dalam novel ini adalah banyaknya bahasa dan kalimat yang sulit dimengerti dalam beberapa paragraf cerita. Ditambah beberapa istilah daerah yang digunakan oleh suku pedalaman di Kalimantan. Beruntunglah, penulis menyisipkan kamus di bagian belakang buku, sehingga kalimat yang sulit dimengerti dapat sedikit terpecahkan.
     Selain itu, ada beberapa alur cerita yang sulit dipahami oleh pembaca. Seperti saat Masausa bertemu dengan kakek dan neneknya di balai kecil yang sudah sangat tua dan juga bocor dimana-mana. Masausa bertanya, mengapa mereka tidak pindah mengikuti anak dan cucunya. Mereka menjawab, balai yang sekarang mereka tempati ini mempunyai arti penting bagi mereka dan mereka bersekukuh bahwa mereka tidak akan pindah. Namun, pada akhir cerita, mereka berada di Balai Sangga Langit. Bukankah itu berarti mereka pindah ? Di dalam buku, hal itu tidak dijelaskan secara rinci sehingga saya juga sedikit bingung dalam membacanya. Ya, bahkan penulis juga dapat membuat kesalahan. Cukup sulit memang untuk dapat memahami sepenuhnya cerita novel ini tanpa berkonsentrasi dan menghayatinya. Untuk itu, novel ini saya kira tidak cocok untuk dibaca oleh anak yang masih kecil.

3. Bahasa

3.1. Penggunaan Kata dan Kalimat

     Bahasa yang digunakan dalam novel ini, beberapa menggunakan istilah daerah Kalimantan Selatan. Seperti yang sudah dijelaskan, memang sedikit sulit mengartikannya, namun penulis sepertinya sudah mengantisipasi kesulitan itu dengan menambahkan kamus di halaman belakang buku. Selain itu, jumlah bahasa daerah yang digunakan juga tidak terlalu banyak, bahasa daerah yang digunakan juga membaur dengan alur cerita sehingga cukup mudah dimengerti. Selain itu, bahasa yang digunakan oleh penulis juga bukan bahasa baku, namun bukan pula bahasa gaul. Lebih tepatnya, penulis menggunakan bahasa yang mudah dimengerti baik oleh remaja maupun dewasa. Walaupun di dalam beberapa kalimat terdapat kata “si” kemudian disusul oleh nama seseorang. Hal itu dalam bahasa sunda bukanlah bahasa yang sopan. Saya kurang mengerti mengapa penulis memakai “si”, mungkin disana (Kalimantan) itu merupakan hal yang biasa. Ya, secara keseluruhan, bahasa yang digunakan oleh penulis merupakan bahasa yang baik dan cukup mudah dimengerti.

3.2. Gaya Bahasa

      Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini sangatlah banyak. Terdapat beberapa majas personifikasi, majas metafora, majas alegori, dan majas lainnya.
      Berikut salah satu contoh majas yang terdapat dalam novel tersebut :
      -Kulitnya pun tak tertembus oleh besi. (majas hiperbola)

4. Organisme

4.1. Sistematika Penulisan Buku

     Sistematika penulisan buku dalam novel ini sudah cukup baik. Sistematika mencangkup tanda baca, cara penulisan, juga penempatan huruf kapital. Tanda baca yang digunakan dalam novel sudah menuruti EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) yang tepat. Penempatan tanda baca titik (.), koma (,), petik (“…”), tanya (?), seru (!), dan tanda baca lainnya sudah ditempatkan dengan benar. Seperti misalnya, “Kalian warga balai Sangga Langit sudah menyaksikan semuanya?” dalam hal ini, tanda tanya (?) digunakan saat kalimat pertanyaan. Dengan begitu, tanda baca yang digunakan sudah benar.
     Cara penulisan novel tersebut, menurut hasil analisis saya, sudah baik karena saya tidak menemukan adanya kesalahan pengetikan dan sebagainya. Saya kurang begitu tahu dengan istilah daerah di Kalimantan apakah salah pengetikan atau tidak. Namun, sejauh ini, cara penulisan novelnya sudah benar.
     Penempatan huruf kapital dalam novel juga sudah benar. Seperti nama orang menggunakan huruf kapital (Masuasa, Adam, dan lain-lain), setelah titik juga menggunakan huruf kapital.
     Maka, secara keseluruhan, sistematika penulisan buku novel ini sangat baik.

5. Penulis

5.1. Latar Belakang

     Djarani E.M. lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, 19 Februari 1941. Dilatari pendidikan PGSLP Jurusan Sejarah, kini mengajar di SMP Negeri 5 Kandangan. Sebelumnya pernah kuliah d Fakultas Hukum, tetapi kandas sebelum setengah jalan. Sambil mengajar menyambi kuliah di Institut Ilmu Administrasi dan Manajemen.
     Lelaki dengan postur jangkung ini mempunyai kepedulian khusus terhadap kehidupan sosial masyarakat Urang Bukit di kaki Pegunungan Meratus dan lingkungan alam di sekitarnya. Karena rasa kepeduliannya terhadap masalah lingkungan hidup, pada 2 Juli 1982 memperoleh penghargaan dari Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Emil Salim, yang diserahkan oleh Ibu Tien Soeharto dalam rangka Hari Lingkungan Hidup.
     Lingkungan dengan penajaman pada usaha pelestarian fungsi sumber daya alam, selalu diacunya sebagai tematis pada setiap karya tulisnya.Kangkung Kembang Danau Bangkau, Loksado Di Sini Kami Satu Hati, dan Loksado Merah Muda Pucuk Daun Kayu Manismu adalah novel dan noveletnya. Bawanang, Minyak dan Gas Bumi, Kalimantan Pulau Beribu Sungai, Kalimantan Selatan, dan Mendulang Intan merupakan karya ilmiah nonfiksinya. 

5.2. Kreativitas

Buku berjudul Ketapel yang ditulisnya pada tahun 1994 merupakan pemenang II sayembara penulisan naskah buku bacaan tingkat nasional yang diselenggarakan Pusat Perbukuan, Depdikbud (1994/1995) dan telah diterbitkan oleh Yayasan Adicita Karya Nusa, Yogyakarta. Buku tersebut juga mewakili Indonesia dalam forum UNESCO untuk buku bacaan anak di Paris pada tahun 1996.
Buku Sangga Langit ini merupakan pemenang I tingkat nasional sayembara penulisan naskah buku bacaan fiksi 1996/1997.

6. Sinopsis Peresensi

Cerita ini merupakan salah satu trilogi petualangan di Hunjur Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan. Mengisahkan pengalaman Adam yang membantu Masuasa mencari orang tua kandung dan asal usulnya. Alur dan latar kisah ini ditampilkan seperti apa adanya untuk menghidupkan tokoh dan memberi warna khas tentang keanekaragaman budaya Nusantara. Kehidupan suku terasing di Kalimantan Selatan sebagai latar belakang cerita membuat kisah ini menjadi sangat menarik.



Comments

Popular posts from this blog

Laporan Praktikum Koloid Pudding